

IDHACK.CO.ID – Kabar mundurnya Salesforce dari kandidat yang bakal mengakuisisi Twitter menjadi topik yang menarik untuk diketahui lebih lanjut. Sebagai salah satu anak perusahaan Google, Salesforce merupakan perusahaan yang bergerak sebagai vendor Software as a Services (Saas) yang menyediakan aplikasi Costumer Relationship Management (CRM).
Sebelumnya, terdapat beberapa perusahaan yang tertarik untuk membeli Twitter seperti Walt Disney, Salesforce dan Google. Namun, seketika Walt Disney dan Google lebih memilih untuk mundur dan menyisakan kandidat utama yakni Salesforce. Tak butuh waktu lama, Salesforce juga ikut undur diri mengikuti dua pendahulunya.
Awalnya, Salesforce tertarik untuk mengakuisisi Twitter karena database yang dimiliki Twitter nantinya bisa digunakan untuk meningkatkan layanan bagi pemasaran profesional. Ternyata, hal tersebut tidak berlangsung lama. Salesforce pun memilih pergi.
Di Indonesia, Twitter bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan layanan publik. Layanan apa yang Twitter sediakan?
Marc Benioff, Chief Executive of Salesforce mengungkapkan bahwa Twitter bukan perusahaan yang tepat diakuisisi oleh Salesforce yang merupakan perusahaan cloud software. Adapun banyak alasan lain untuk membatalkan rencana awal.
Twitter terancam gulung tikar
Twitter merupakan salah satu media sosial yang sempat populer pada masanya. Namun, banyaknya media sosial lain yang bermunculan membuat Twitter kalah saing dan terancam gulung tikar. Jika dibandingkan dengan Periscope yang baru saja muncul dalam industri teknologi, pertumbuhan Twitter dikatakan jauh lebih lambat dalam tiga tahun terakhir ini.

Bahkan, sekembalinya Jack Dorsey sebagai CEO, perusahaan yang memiliki sekitar 300 juta pengguna yang tersebar di seluruh dunia ini belum bisa menyaingi pesaing lainnya seperti Facebook yang sudah mempunyai lebih dari 1,5 miliar pengguna secara global.
Menurut Financial Times, hingga saat ini, Twitter dikabarkan masih mencari kandidat baru yang tertarik untuk membeli perusahaannya. Turunnya saham Twitter lebih dari lima persen menjadi cambuk tersendiri. Mau tak mau, pihaknya harus memutar otak agar bisa bertahan hidup.
Bahkan, Dorsey telah merumahkan sekitar 8 persen dari karyawannya dan lebih memilih untuk merekrut posisi manajerial agar bisa mengembalikan profit perusahaan seperti awal ketika Twitter dibangun. (IRVN/IDH)













































